PAI IAIN Parepare — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Parepare menyelenggarakan kegiatan Kajian Islam dan Kearifan Lokal pada Sabtu, 23 November 2024, di Ruang Kelas Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare. Kegiatan ini mengangkat tema “Integrasi Nilai-Nilai Islam dan Budaya Lokal dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik.”
Kajian tersebut diikuti oleh mahasiswa Prodi PAI sebagai bagian dari kegiatan akademik di luar perkuliahan. Pelaksanaannya bertujuan memperluas pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara ajaran Islam, kebudayaan masyarakat, dan proses pembentukan karakter peserta didik di lingkungan pendidikan.
Ketua Prodi PAI IAIN Parepare, Dr. Rustan Efendy, M.Pd.I., menyampaikan bahwa calon guru Pendidikan Agama Islam perlu memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat tempat mereka melaksanakan tugas pendidikan. Menurutnya, pembelajaran PAI akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan memperhatikan nilai-nilai lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
“Mahasiswa Prodi PAI perlu memiliki kemampuan membaca realitas sosial dan budaya masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal yang mengandung kebersamaan, penghormatan, tanggung jawab, dan kepedulian dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk memperkuat karakter peserta didik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa integrasi Islam dan budaya lokal bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama dengan seluruh bentuk tradisi. Proses tersebut memerlukan kemampuan akademik dan sikap kritis untuk menilai unsur budaya yang selaras dengan nilai tauhid, akhlak, keadilan, persaudaraan, dan kemaslahatan.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Muh. Akib D, M.A. sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Islam hadir di tengah masyarakat yang memiliki tradisi, bahasa, pola interaksi, dan nilai sosial yang beragam. Karena itu, pendekatan pendidikan yang kontekstual sangat diperlukan agar pesan keagamaan dapat dipahami secara mendalam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kearifan lokal dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan pengalaman peserta didik. Guru PAI dapat menggunakan cerita lokal, tradisi gotong royong, sikap menghormati orang tua, musyawarah, serta praktik sosial lainnya sebagai konteks untuk menjelaskan nilai-nilai Islam,” jelas Akib.
Menurutnya, penggunaan budaya lokal dalam pembelajaran tetap harus dilakukan secara selektif. Calon guru perlu membedakan tradisi yang memiliki nilai edukatif dan sosial dengan kebiasaan yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku. Integrasi nilai Islam dan budaya lokal dapat membantu peserta didik memahami bahwa ajaran agama memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pelaksanaan kajian berlangsung secara interaktif. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kearifan lokal yang terdapat di lingkungan masing-masing. Peserta kemudian mendiskusikan kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber, media, maupun konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pembahasan juga mencakup tantangan yang mungkin dihadapi guru ketika mempertemukan ajaran agama dengan budaya lokal. Mahasiswa diarahkan untuk menggunakan pendekatan dialogis, ilmiah, dan bijaksana agar pembelajaran tidak menimbulkan sikap yang mudah menyalahkan tradisi maupun menerima seluruh praktik budaya tanpa kajian yang memadai.
Salah seorang peserta, Mulyanti, mahasiswa Prodi PAI semester 3, menyampaikan bahwa kajian tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya pendekatan budaya dalam proses pembelajaran.
“Melalui kegiatan ini, kami memahami bahwa materi PAI dapat disampaikan dengan menghubungkannya pada kehidupan dan budaya masyarakat. Cara tersebut dapat membuat pembelajaran lebih dekat, mudah dipahami, dan relevan bagi peserta didik,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa calon guru perlu memiliki pengetahuan mengenai kebudayaan lokal agar mampu menghadirkan pembelajaran yang menghargai identitas peserta didik sekaligus tetap berpedoman pada nilai-nilai Islam.
Melalui Kajian Islam dan Kearifan Lokal ini, Prodi PAI IAIN Parepare berharap mahasiswa mampu mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, religius, moderat, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Kegiatan tersebut juga mendukung visi keilmuan Prodi PAI dalam menghasilkan lulusan yang inovatif, berdaya saing, serta mampu merespons keragaman sosial dan budaya secara akademik dan bijaksana. (hfs)