Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

PEMBELAJARAN BERBASIS RISET: PEMANTIK SPIRIT RISET MAHASISWA

Berangkat dari problem realitas pembelajaran dengan pendekatan teacher centered approach yang memasung kreatifitas mahasiswa dalam akt...




Berangkat dari problem realitas pembelajaran dengan pendekatan teacher centered approach yang memasung kreatifitas mahasiswa dalam aktualitas potensi mereka dan stagnasi ide-ide kreatif dan sebagai bentuk kepedulian terhadap problematika sosial keagamaan yang terjadi dalam skala nasional maupun global, maka melalui desain pembelajaran berbasis riset (learning by research) dalam mata kuliah Islamic Pluralisme, mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di bawah bimbingan dosen pengampuh mata kuliah dan ketua prodi, melakukan upaya pergeseran paradigma pembelajaran dari paradigma teoritis ke paradigma teoritis dan praktis yang berbasis riset yang melahirkan karya prototype moderasi beragama. 

     Kelas riset ini adalah kelas mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dipilih dan telah dibekali dengan teori-teori Islam dan plularisme dan pengantar metodologi penelitian, sehingga pengetahuan yang mereka miliki dapat diaplikasikan untuk memperoleh data dan meramunya menjadi riset. 
Walhasil, beberapa karya riset diantaranya: “Diskursus Pemikiran Mahasiswa tentang Islam Wasathiyyah”. 

 


Dalam riset ini mengelaborasi ragam pemikiran mahasiswa tentang definisi dan realitas Islam wasathiyyah, uraian tentang landasan epistemik, latar sosio-kultural dan mengapa Islam wasathiyyah urgen dalam konteks kebhinnekaan. 
Riset selanjutnya adalah “Pluralitas sebagai Energi Positif Pemersatu Bangsa”. Dalam riset ini, pluralitas dipandang sebagai konsekuensi dari sunnatullah, bahwa keragaman adalah kehendak ilahi. Dideskripiskan pula dalam riset ini, pluralitas sebagai fakta keragaman, baik keragaman suku, etnis, budaya sampai pada tahap keragaman agama dan ideology yang acapkali tidak disadari sebagai satu kekuatan konstruktif, bahkan ada pihak tertentu yang memahaminya sebagai satu potensi destruktif. Dalam riset ini, tim periset memahami dan menawarkan paradigma kesatuan dalam pluralitas. Artinya, dalam fakta keragaman sesungguhnya ada titik temu yang dapat mengurai semua perbedaan. 
Riset berikutnya “Pluralisme sebagai Basis Ontologis Perwujudan Masyarakat Damai”. Dalam riset ini, ditemukan bahwa pluralitas sebagai pemahaman dan kesadaran kolektif merupakan basis ontologis dalam menciptakan satu kondisi masyarakat majemuk. 



Lanjut pada hasil riset selanjutnya tentang model moderasi beragama di era disrupsi. Kajian riset ini mendeskripsikan model moderasi beragama di era disrupsi. Era disrupsi dalam riset ini, dideskripsikan sebagai era yang mampu mencerabut tradisi ataupun paradigma kemoderenan. Era ini adalah efek dari revolusi industri 4.0 yang diidentikkan dengan kecanggihan teknologi informasi. 
Beberapa point penting dari riset ini adalah harmoni antar umat beragama dengan mengambil sampel jama’ah masjid dan gereja dimana keduanya dapat berdampingan secara damai dalam merajut ukhuwah. Point penting lainnya adalah epistemologi Islam wasathiyyah (pandangan moderat) dalam memahami dan menangani perbedaan pendapat. Dalam riset ini ditawarkan landasan epistemik Islam wasathiyyah sebagai tawaran paradigma terhadap pandangan dominan keagamaan. 
Point terakhir adalah pandangan tokoh lintas agama dalam memahami toleransi antar umat beragama dan kontribusinya dalam menjaga konsepsi kebhinnekaan. Salam. (RE/if)

Tidak ada komentar