PAI IAIN Parepare - Setiap musim wisuda, panggung kampus dipenuhi tepuk tangan untuk predikat cumlaude, IPK mendekati sempurna, atau gelar yang diraih dalam waktu tersingkat. Media kampus memberitakannya sebagai puncak prestasi, dan tak sedikit mahasiswa menjadikannya satu-satunya tujuan selama kuliah. Pertanyaannya, apakah deretan angka di transkrip nilai benar-benar cukup untuk disebut sukses?
Saya percaya jawabannya tidak. Prestasi akademik memang penting, tetapi ia hanya satu keping dari gambaran yang lebih besar. Mahasiswa yang benar-benar berhasil adalah yang mampu mengembangkan kapasitas intelektual, sekaligus mengonstruksi karakter yang kuat, mempererat hubungan dengan Allah Swt., menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ukurannya bukan pada transkrip, melainkan pada seberapa berani seseorang "mewakafkan" dirinya waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuannya untuk hal-hal yang bernilai. Masa kuliah adalah periode yang sangat menentukan arah hidup seseorang di masa depan, sehingga setiap kesempatan yang ada semestinya dipakai untuk membangun kualitas diri, bukan dihabiskan pada aktivitas yang tidak memberi nilai tambah.
Wakaf pertama yang harus ditunaikan mahasiswa adalah wakaf intelektual. Belajar tidak boleh dipandang sebagai kewajiban yang hanya muncul menjelang ujian, melainkan tradisi yang terus dihidupi: membaca literatur, aktif berdiskusi, mengikuti seminar, dan melakukan penelitian. Semangat belajar semacam ini perlu ditopang kedisiplinan menaati aturan kampus. Peraturan akademik bukan alat pembatas kebebasan, melainkan sarana pembentukan pribadi yang bertanggung jawab, dan kebiasaan hadir tepat waktu serta menjaga fasilitas kampus lambat laun akan membentuk kepercayaan dari lingkungan akademik.
Wakaf kedua adalah wakaf spiritual dan fisik. Hubungan yang kuat dengan Allah Swt. menjadi sumber ketenangan sekaligus kekuatan menghadapi tekanan kuliah. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan salat lima waktu dan membaca Al-Qur'an setiap hari, meski hanya satu atau dua ayat, disertai terjemah dan upaya mengamalkannya karena kemuliaan seorang muslim tidak diukur dari banyaknya bacaan, tetapi dari kesungguhan mengamalkan isinya. Kedekatan spiritual ini perlu ditopang kondisi fisik yang prima; potensi akademik tidak akan berkembang optimal jika kesehatan diabaikan, sehingga pola makan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat cukup bukan hal sepele untuk diabaikan.
Wakaf ketiga adalah wakaf akhlak dan sosial. Keberhasilan mahasiswa tidak lepas dari doa dan restu kedua orang tua, karena itu menghormati, membantu, dan mendoakan mereka adalah keharusan, bukan pilihan. Kepada dosen, mahasiswa perlu menjaga adab: mengucapkan salam, meminta izin, berbicara santun, dan mendengarkan dengan saksama, karena dosen bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing dan teladan. Di tengah masyarakat, akhlak yang baik tercermin dari hal-hal sederhana, seperti mengucapkan "tabe" atau permisi ketika melewati orang lain, menghargai perbedaan pandangan, dan ringan tangan menolong siapa saja yang membutuhkan. Kebaikan-kebaikan kecil inilah yang kelak menumbuhkan kepercayaan dan membuka pintu keberkahan.
Tentu, ada yang berpendapat bahwa di tengah dunia kerja yang kompetitif, IPK dan kecepatan lulus tetap menjadi penentu, setidaknya untuk melewati seleksi administrasi awal. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Namun, angka-angka itu hanya membuka pintu; yang menentukan seseorang bertahan dan berkembang di baliknya adalah karakter, integritas, dan kematangan yang tidak tercatat di transkrip. Tidak sedikit lulusan dengan IPK tinggi kesulitan beradaptasi karena lemah dalam kejujuran atau kerja sama, sementara yang IPK-nya biasa saja justru dipercaya memegang tanggung jawab besar karena akhlak dan konsistensinya.
Pada akhirnya, kesuksesan mahasiswa adalah perpaduan kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, kesehatan fisik, dan keluhuran akhlak empat wakaf yang saling menopang, bukan empat pilihan yang berdiri sendiri. Predikat cumlaude yang diarak di panggung wisuda boleh jadi kebanggaan, tetapi kebanggaan yang lebih besar adalah ketika ilmu yang dimiliki menjadi sumber keberkahan bagi diri sendiri dan manfaat bagi orang lain. Sebab pada akhirnya, gelar bisa dicetak dalam satu lembar ijazah, tapi karakter dan keberkahan hanya bisa ditempa lewat kesungguhan mewakafkan diri, hari demi hari, sepanjang masa kuliah.
Editor : Hafis