PAI IAIN Parepare — Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Parepare menyelenggarakan Kajian Etika Pemanfaatan AI dalam Pendidikan Islam pada Sabtu, 21 September 2024, di Ruang Kelas Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare. Kegiatan ini mengangkat tema “Menggunakan Kecerdasan Buatan secara Etis, Kritis, dan Bertanggung Jawab.”
Kajian tersebut diikuti oleh mahasiswa Prodi PAI sebagai bagian dari penguatan kegiatan akademik di luar perkuliahan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai peluang, manfaat, dan batasan penggunaan kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran dan penyusunan karya akademik.
Ketua Prodi PAI, Dr. Rustan Efendy, M.Pd.I., menyampaikan bahwa mahasiswa perlu menguasai teknologi tanpa mengabaikan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas akademik.
“Kecerdasan buatan dapat membantu proses belajar, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir mahasiswa. Penggunaannya harus tetap memperhatikan etika, kebenaran informasi, serta tanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan Bahtiar, S.Ag., M.A. sebagai pemateri. Ia menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, menyusun kerangka, mengembangkan media pembelajaran, dan membantu memahami materi. Namun, setiap hasil yang diperoleh perlu diperiksa kembali karena AI dapat menghasilkan informasi yang keliru atau tidak memiliki sumber yang jelas.
“Mahasiswa harus tetap membaca, menganalisis, dan melakukan verifikasi. Jangan langsung menggunakan hasil AI tanpa memeriksa kebenaran, relevansi, dan kesesuaiannya dengan nilai-nilai Pendidikan Islam,” jelasnya.
Salah seorang peserta, Muhammad Arif, mahasiswa Prodi PAI semester V, menyampaikan bahwa kajian tersebut membuat mahasiswa lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi.
“Kami memahami bahwa AI dapat membantu belajar, tetapi penggunaannya harus jujur dan bertanggung jawab. Mahasiswa tetap harus mengembangkan pemikiran sendiri dan mencantumkan sumber secara benar,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Prodi PAI IAIN Parepare berharap mahasiswa mampu memanfaatkan kecerdasan buatan secara produktif, kritis, dan beretika, sekaligus menjaga integritas akademik dan nilai-nilai keislaman.